Poktan Maju Rukun replikasi pembuatan pupuk organik padat di Purworejo/dok.Kementan

Alumnus CSA, Petani Purworejo Replikasi Pembuatan Pupuk Organik

Editorindonesia, Purworejo – Semula terpaksa lalu terbiasa, hal itu dialami kelompok tani (Poktan) Maju Rukun di Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi. Mereka adalah alumnus kegiatan Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) dari Kementerian Pertanian RI bersama Program SIMURP tahun 2023 di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Perubahan sikap terjadi, setelah faham membuat pupuk organik secara swadaya kemudian digunakan pada budidaya tanaman pangan. Manfaatnya luar biasa bagi tanah maupun tanaman. Membuat petani hari-hari ini, kian bergantung pada pupuk organik, sehingga mengabaikan pupuk kimia.

Sebelumnya, anggota Poktan Maju Rukun di Purworejo sangat bergantung pada pupuk kimia bersubsidi. Bergabung menjadi Penerima Manfaat dari Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) mendorong mereka ‘melek’ pada pupuk organik.

Guna mereplikasi penggunaan pupuk organik pada Poktan lain, Poktan Maju Rukun menginisiasi kegiatan pengolahan kotoran hewan (Kohe) menjadi pupuk organik padat secara swadaya dengan efektif dan efisien, belum lama ini, di kediaman Ketua Poktan Maju Rukun, Budi Haryono.

Upaya tersebut sejalan kebijakan Kementan setelah meluncurkan Gerakan Tani Pro Organik (Genta Organik) pada awal Desember 2022. Tujuannya, memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia bersubsidi, yang harganya terus melambung.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi bahwa yang bisa menyuburkan tanah bukan hanya pupuk kimia melainkan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah.

“Pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah, bisa petani buat sendiri. Asalkan ada kemauan. Artinya, untuk menyuburkan tanah tidak ada alasan gara-gara pupuk mahal kita diam. Proses penyuburan tanah, genjot produktivitas dan produksi harus terus kita lakukan,” katanya.

Meski demikian, Dedi Nursyamsi, menegaskan bahwa Genta Organik bukan berarti mengharamkan penggunaan pupuk kimia, pupuk anorganik masih boleh digunakan, tapi tidak berlebihan atau mengikuti konsep pemupukan berimbang.

“Genta Organik bukan berarti mengharamkan pupuk kima. Jadi, di dalam Genta Organik untuk mengatasi pupuk mahal di dalamnya ada pupuk organik, pupuk hanyati, pembenah tanah dan pemupukan yang berimbang,” katanya lagi.

Inisiasi replikasi pupuk organik oleh Poktan Maju Rukun selaku alumni CSA di Purworejo disambut baik Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Purwodadi, Sudiyono bersama penyuluhnya mendampingi kegiatan replikasi di kediaman Budi Haryono, Ketua Poktan Maju Rukun.

“Saya mempunyai program bersama kelompok tani, agar ke depan, kami mampu memproduksi pupuk organik dari kotoran hewan secara kontinyu,” kata Budi Haryono.

Setidaknya, katanya lagi, dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik bagi anggota Poktan Maju Rukun, yang antusias menggunakan pupuk organik setelah faham manfaatnya.

Budi Haryono mengakui, pupuk kimia masih menjadi primadona oleh sebagian besar petani dalam proses budidaya pertanian. Praktis, adalah salah satu alasan di balik penggunaannya dan sudah menjadi kebiasaan dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Tanpa disadari dampaknya. Tanah menjadi keras dengan tingkat keasaman tinggi adalah sebagian sejumlah dampak yang ditimbulkan pupuk anorganik, terlebih dosis yang diberikan melebihi rekomendasi pemupukan berimbang,” kata Budi Haryono.

Koordinator BPP Sudiyono mengakui inisiasi Poktan Maju Rukun sebagai gagasan positif, selain memperbaiki struktur tanah yang ‘sakit’ dapat menjadi alternatif menekan penggunaan pupuk kimia.

“Harapan kami ke depan, tidak hanya dimanfaatkan internal kelompok saja, juga dimanfaatkan oleh petani lain di wilayah lain bahkan bisa dipasarkan pada Poktan lain,” katanya. (Didi)