Ilustrasi/dok.luhur

Baby Blues, Sindrom Pemicu Briptu FN Bakar Hidup-hidup Suaminya

Editor Indonesia, Mojokerto – Ada fakta penting dalam kasus polwan di Mojokerto yang membakar hidup-hidup hingga berujung kematian suaminya, Briptu RDW. Yaitu kondisi lelah fisik dan mental Briptu FN.

Fakta itu yakni Polwan Briptu FN baru kembali masuk kerja setelah cuti melahirkan dua anak kembar empat bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, pasangan FN-RDW telah dianugerahi seorang balita yang ketika tragedi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi berusia 2 tahun.

Baik si balita dan bayi, sedang dalam tahap menyusui secara eksklusif. Artinya sebagai seorang ibu, Briptu FN harus membagi tenaga dan ASI-nya untuk tiga anak sekaligus yang semuanya membutuhkan perhatian tinggi.

Maka tidak sulit membayangkan rasa lelah yang menyergap FN setiap harinya. Pada saat bersamaan, tubuh FN sedang mengalami perubahan hormon pasca-melahirkan yang mempengaruhi kondisi psikologisnya.

Detail tersebut oleh Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti duga jadi pemicu meledaknya kemarahan terpendam FN terhadap RDW. Dia menyarankan Polda Jawa Timur memeriksa apakah ada kemungkinan tersangka mengalami post partum depression yang adalah tahap lanjut dari baby blues syndrome.

“Sehingga bukan hanya terkait kemarahan akibat korban (suami) bermain judi online,” kata Poengky yang juga meminta melakukan penyidikan dengan dukungan scientific crime investigation dalam hal kondisi psikologis FN.

Baby blues bukan kelemahan mental

Sindrom ini ternyata sering menimpa ibu-ibu pasca-melahirkan. Indikasinya adalah perasaan sedih yang mendalam, cemas berlebihan, mudah menangis, sulit beristirahat dan kelelahan ektrem yang muncul secara tiba-tiba.

Faktor pemicunya bisa mulai dari perubahan hormon, kurangnya dukungan sosial, hingga tekanan psikologis karena perubahan peran dan tanggung jawab yang dapat berujung penolakan terhadap bayinya. Ingat bahwa sindrom baby blues bukanlah sebuah kegagalan atau kelemahan mental, melainkan bagian dari proses adaptasi psikologis yang normal pasca melahirkan.

Di dalam kasus FN, ada faktor kejengkelan terhadap suaminya yang kecanduan judi online sehingga uang gaji ke-13 untuk kebutuhan anak-anak pun jadi modal berjudi. Fisik yang lelah dampak kerepotan mengurus balita dan dua bayi, ditambah lelah mental akibat kemarahan terpendam.

Contoh ekstrem dari dampak psikologis tersebut sangat mungkin terjadi jika sang ibu terlambat mendapat bantuan berupa dukungan mental dari lingkung terdekatnya. Sindrom yang biasanya berakhir dengan sendirinya dalam beberapa pekan, berubah menjadi post partum depression yang berdampak pada tindakan keji di luar nalar sebagaimana Poengky Indarti cermati.

Butuh teman curhat

Dukungan dari keluarga dan sahabat sangat penting bagi ibu yang mengalami baby blues. Terutama dari ibu-ibu lain yang pernah mengalami sindrom tersebut.

Penderita butuh teman curhat yang empati terhadap situasi yang dia hadapi. Untuk kasus tertentu, konseling atau terapi bisa menjadi pilihan terbaik untuk membantu sang ibu menemukan kembali kegembiraan dalam perannya yang baru.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menunjukkan tanda-tanda baby blues, jangan ragu untuk mencari bantuan. Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik, terutama setelah peristiwa besar seperti kelahiran seorang anak.

Bantuan kecil

Cara terbaik membantu ibu yang mengalami baby blues, adalah dengan meringankan beban mental dan fisiknya. Selain dukungan emosional dan afirmasi positif, kita dapat membantunya merawat bayi, menyediakan makanan bergizi tinggi, vitamin stamina tubuh atau mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sehari-hari.

Manfaat dari bantuan demikian adalah memberi waktu istirahat bagi sang ibu. Kurang istirahat dalam jangka waktu lama bisa berdampak terhadap gangguan emosi bahkan kesehatan jantung.

Ajak sang ibu meluangkan waktu bagi dirinya agar stres berkurang. Seperti jalan-jalan singkat, berolahraga, makan-makan, melakukan hobi atau lainnya yang mengalihkan dari kebosanan sehingga mood membaik.

Sangat penting memastikan bahwa sang ibu mendapatkan asupan nutrisi yang baik dan tetap terhidrasi, yang dapat mempengaruhi energi dan mood. Latihan fisik ringan, seperti berjalan kaki, juga dapat membantu, asalkan ibu telah mendapat persetujuan dari dokternya.

Terakhir, jika diperlukan, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang baik untuk membantu ibu mengatasi perasaan negatif dan menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai orang tua.

Dengan pendekatan yang penuh kasih dan pemahaman, ibu yang mengalami baby blues dapat menemukan kembali keseimbangan dan kebahagiaannya. Kita semua dapat berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi ibu-ibu baru, sehingga mereka dapat melewati masa transisi ini dengan lebih mudah dan percaya diri. (Luhur Hertanto/EI-1)