ilustrasi kekerasan seksual/dok.ist

Di Spanyol Sedikitnya 200 ribu Anak Dilecehkan Pendeta Katolik Roma

Editorindonesia, Spanyol – Lebih dari 200 ribu anak-anak di bawah umur, mengalami pelecehan seksual di Spanyol oleh pendeta Katolik Roma sejak 1940. Laporan tersebut tidak memberikan angka spesifik.

Temuan tersebut mengacu dari hasil jajak pendapat terhadap lebih dari 8.000 orang, Hasilnya sebanyak 6% dari populasi orang dewasa Spanyol yang berjumlah sekitar 39 juta orang, pernah mengalami pelecehan seksual oleh anggota pendeta ketika masih anak-anak.

“Persentasenya meningkat menjadi 1,13% atau lebih dari 400 ribu orang jika termasuk pelecehan yang dilakukan oleh anggota gereja,” kata Ketua Ombudsman Spanyol Angel Gabilondo pada konferensi pers yang dilansir dari kantor berita AFP, Minggu (29/10/2023)

Pengungkapan di Spanyol ini adalah yang terbaru yang mengguncang Gereja Katolik Roma. Itu setelah serangkaian skandal pelecehan seksual di seluruh dunia, yang seringkali melibatkan anak-anak, selama 20 tahun terakhir.

Namun tidak seperti di negara-negara lain, di Spanyol sebuah negara yang secara tradisional beragama Katolik, namun kini menjadi sangat sekuler. Tuduhan pelecehan yang dilakukan oleh para pendeta kini semakin mendapat perhatian.

“Sayangnya, selama bertahun-tahun ada keinginan tertentu untuk menyangkal pelanggaran atau keinginan untuk menyembunyikan atau melindungi para pelaku,” kata Gabilondo.

Laporan tersebut mengkritik sikap Gereja Katolik dan menyebut penolakan terhadap tuduhan pelecehan anak yang melibatkan pendeta tidak memadai. Mereka merekomendasikan pembentukan dana negara untuk membayar ganti rugi kepada para korban.

Tepat sebelum laporan tersebut dipresentasikan di parlemen, Konferensi Waligereja Spanyol mengatakan akan mengadakan pertemuan luar biasa untuk membahas temuan-temuan tersebut.

Parlemen Spanyol pada Maret 2022 dengan suara bulat menyetujui pembentukan komisi independen, yang dipimpin oleh ombudsman negara tersebut untuk menjelaskan tuduhan pelecehan seksual terhadap anak laki-laki dan perempuan yang tidak berdaya di dalam Gereja Katolik.

Gereja Katolik Spanyol, yang selama bertahun-tahun dengan tegas menolak untuk melakukan penyelidikan sendiri, menolak untuk mengambil bagian dalam penyelidikan independen. Meskipun demikian mereka bekerja sama dengan memberikan dokumen mengenai kasus-kasus pelecehan seksual yang telah dikumpulkan oleh keuskupan.

Namun ketika tekanan politik meningkat, mereka menugaskan sebuah firma hukum swasta pada Februari 2022 untuk melakukan audit terhadap pelecehan seksual di masa lalu dan saat ini yang dilakukan oleh pendeta, guru, dan pihak lain yang terkait dengan gereja, yang harus diselesaikan pada akhir tahun ini.

Gereja Spanyol mengatakan pada Juni bahwa mereka telah menemukan 927 kasus pelecehan anak melalui prosedur pengaduan yang diluncurkan pada 2020. Mereka berpendapat telah menetapkan protokol untuk menangani pelecehan seksual dan telah mendirikan kantor perlindungan anak di keuskupan.

Puncak Gunung Es

Namun penyelidikan yang dilakukan oleh surat kabar harian terlaris El Pais yang dimulai pada 2018 telah mengungkap 2.206 korban dan 1.036 tersangka pelaku kekerasan sejak 1927. “Menurut para ahli, ini hanyalah puncak gunung es,” tulis surat kabar tersebut.

Krisis pelecehan di Gereja meledak ke panggung internasional pada 2002 ketika surat kabar Boston Globe mengungkapkan bahwa para pendeta telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak selama beberapa dekade dan para pemimpin gereja menutupinya.

Pola pelecehan anak yang meluas kemudian dilaporkan terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, di Chile dan Australia, melemahkan otoritas moral Gereja yang beranggotakan 1,3 miliar orang dan berdampak buruk pada keanggotaannya.

Sebuah komisi independen di negara tetangga Perancis menyimpulkan pada 2021 bahwa sekitar 216 ribu anak, sebagian besar laki-laki, telah menjadi korban pelecehan seksual oleh pendeta sejak 1950.

Di Jerman, sebuah penelitian menemukan 3.677 kasus pelecehan antara 1946 dan 2014, sementara di Irlandia lebih dari 14.500 orang menerima kompensasi melalui skema pemerintah bagi mereka yang mengalami pelecehan di fasilitas remaja yang dikelola oleh Gereja Katolik. (Frd)

Baca Juga: Gereja Ortodoks di Kota Gaza Dibombardir Zionis Israel Ratusan