Capres Anies Rasyid Baswedan/dok.tangkapan layar youtube

Jika Anies Jadi Presiden, Apa Program Jokowi Diubah?

Editorindonesia, Jakarta – Bila calon presiden Anies Rasyid Baswedan terpilih menjadi presiden pada Pemilu 2024, bagaimana nasib program Presiden Joko Widodo? Pertanyaan itu kerap ditanyakan kalangan pengusaha, buruh dan masyarakat umum. Mengingat isu perubahan yang dibawa pasangan Anies-Muhaimin (AMIN) ini.

“Kami mempunyai prinsip, bukan dilanjutkan apa tidak, No (bukan itu). Menurut kami sudah cukup kita ini gonta ganti, gonta ganti. Kita yang ada di pemerintahan tahu persis kok bahwa rakyat itu nggak peduli mau siapa yang jadi wali kota, gubernur, yang penting adalah mereka dapatkan manfaat,” jawab Anies, dalam acara sarasehan 100 ekonom Indonesia yang berlangsung Rabu (8/11/2023) di Menara Bank Mega Jakarta.

Terkait nasib program Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika Anies terpilih. Salah satu yang dibicarakan Anies adalah mengenai kelanjutan program Prakerja. Pada prinsipnya menurut Anies program Prakerja bukan dilanjutkan atau tidak. Ia memahami bahwa siapapun pemimpinnya, rakyat membutuhkan suatu program yang memberikan manfaat.

Lantaran itu, Anies mengaku memiliki empat prinsip untuk menuju perubahan dengan tidak selalu mengubah program yang sudah ada. Lebih lanjut Anies menyebut empat prinsip itu ialah;

Pertama, adanya peningkatan. Anies menginginkan apa yang sudah dikerjakan selama ini, ada suatu peningkatan di masa depan.

Kedua adanya perubahan untuk lebih baik. “Perubahannya apa? Koreksi dari yang dikerjakan sekarang. Ya harus terbuka juga terhadap koreksi,” ucapnya.

Ketiga, hal yang harus dihentikan dari apa yang dikerjakan sekarang dan apa hal baru yang harus dimasukkan.

Keempat, hasil dari ketiga hal itu dinilai akan menjadi pegangannya.

“Ketika bicara change itu dipikirnya nomor 3 nomor 4 aja, itu menurut saya bahaya. Saya dulu tugas di Jakarta abis itu selesai tugas ada perubahan, ya nggak apa memang orangnya beda. Kalau prinsip 4 itu yang dipegang, maka public yang benefit,” imbuhnya.

Anies memaparkan pernyataannya itu untuk menjawab pertanyaan Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Prakerja (PMO) Denni Puspa Purbasari. Ia mempertanyakan apakah program prakerja akan dilanjutkan jika Anies terpilih menjadi presiden.

“Ini pertanyaan sejuta umat karena 1,5 tahun saya keliling Indonesia selalu media maupun masyarakat audiens tanya apakah Prakerja akan dilanjutkan setelah 2024?,” tanya Denny.

Dalam acara yang sama, Anies secara tegas menyatakan akan melanjutkan proyek hilirisasi Jokowi. Hanya saja hilirisasi yang dilakukan Anies akan didorong bersamaan dengan reindustrialisasi dengan tujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru.

“Kita harus lanjutkan hilirisasi, sambil dorong reindustrialisasi yang teman-teman ekonom sering ungkap. Hilirisasinya nggak bisa dihentikan, tapi itu tidak cukup, harus ada reindustrialisasi yang ini mudah-mudahan bisa menciptakan lapangan pekerjaan minimal 15 juta new employment di periode 5 tahun ke depan,” ujar Anies.

Selain hilirisasi, membangun pusat pertumbuhan perekonomian kota kecil menjadi menengah dan menengah menjadi besar di berbagai wilayah Indonesia, menurut Anies akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Dalam catatan Anies setidaknya ada 14 kota yang harus dikerjakan.

“Dalam hitungan kami minimal ada 14 kota yang harus dikerjakan, kota menengah menjadi besar dan kota kecil menjadi kota yang besar. Jadi pusat-pusat pertumbuhan khususnya di luar Jawa itu didorong,” ucap Anies.

Untuk Tax ratio, Anies menargetkan bisa mencapai 13-16%. Serta mendorong pemanfaatan APBN dalam sektor yang berorientasi pada pertumbuhan yang juga berorientasi pada pemerataan.

Mengenai UMKM menurut Anies perlu ada keseriusan pengembangan UMKM menjadi bagian mata rantai pasok bisnis korporasi. “Jadi itu secara struktural diatur dengan regulasi sehingga mata rantai terjadi,” tutup Anies. (Frd)

Baca Juga: Anies Baswedan Jawab Tuntas Beragam Masalah Milenial Jogja