Project Manager PPIU YESS Jatim, Acep Hariri (depan, ke-3 kanan)/dok.Kementan

Kementan Ajak Baznas Kembangkan Klaster Komoditas Petani Milenial

Editorindonesia, Pacitan – Pemberdayaan petani milenial terus diupayakan Kementerian Pertanian RI, dengan menggandeng stakeholders di antaranya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) selaku lembaga pemerintah nonstruktural, yang mengembangkan program pemberdayaan petani termasuk petani milenial bagi pengembangan klaster komoditas.

Komitmen tersebut mengemuka pada Webinar Millenial Agriculture Forum (MAF) edisi Tani AKUR bertajuk ´Pengembangan Klaster Komoditas bersama Baznas´ pada Rabu (4/10) di Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Arjosari di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang dihadiri para Penerima Manfaat Program YESS di Pacitan dan penyuluh setempat.

Kegiatan Webinar MAF digelar Politeknik Pembangunan Pertanian [Polbangtan] yakni Polbangtan Malang selaku Provincial Project Implementation Unit [PPIU] Jawa Timur dari Program Youth Enterpreneurship And Employment Support Services (YESS) yang diusung Kementan bersama International Fund for Agriculture Development (IFAD) untuk mendukung regenerasi sektor pertanian di Indonesia.

Webinar MAF berlangsung di BPP Arjosari selaku Business Development Service Provider (BDSP) di Kabupaten Pacitan, dibuka oleh Project Manager PPIU Jatim, Acep Hariri.

Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo yang mendorong petani-petani di Indonesia menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai sumber pendanaan bagi usaha pertanian mereka.

“Pemanfaatan KUR oleh petani khususnya petani milenial akan memberikan dukungan penting bagi pengembangan pertanian modern dan mandiri, yang akan berkontribusi pada terwujudnya ketahanan pangan nasional,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi meyakini strategi Tani Akur merupakan langkah tepat untuk mendukung pengembangan wirausahawan muda pertanian.

“Program KUR memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan pembangunan pertanian nasional,” katanya.

Program KUR, kata Dedi Nursyamsi, merupakan inisiatif dari Pemerintah RI untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi pelaku usaha pertanian skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui lembaga keuangan dengan bunga rendah.

“Program KUR senafas dengan YESS bagi regenerasi sektor pertanian, salah satunya memfasilitasi petani milenial untuk mengembangkan pertanian dari hulu ke hilir melalui pendampingan usaha,” katanya lagi.

Di tempat terpisah, Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana mengatakan Program YESS berkomitmen untuk terus mengupayakan fasilitasi bagi petani millennial, salah satunya dengan menghubungkan stakeholders termasuk permodalan dan perbankan.

Webinar MAF di Pacitan dihadiri Ketua III Baznas Pacitan, Putatmo S; Kepala UPT BPP Arjosari, Inna Wahyu; petani Local Champion, Dimas Setyadani dan Pengurus Koperasi Agro Sejahtera, Agus Rinoto selaku narasumber dengan moderator Maylatul Chasanah.

Project Manager PPIU Jatim, Acep Hariri saat membuka MAF mengatakan kegiatan tersebut sebagai wadah bagi pelaku pertanian seperti petani milenial, penyuluh dan stakeholders untuk berkumpul, diskusi dan dialog dalam upaya mencari solusi atas kendala dan tantangan di lapangan.

“Kegiatan MAF memberikan solusi bagi petani memanfaatkan BPP sebagai lembaga konsultasi agribisnis,” kata Acep Hariri.

Kepala UPT BPP Arjosari, Inna Wahyu menyatakan komitmen BPP sebagai BDSP Program YESS bahwa para penyuluh siap memfasilitasi petani milennial untuk konsultasi, mulai dari budidaya maupun manajemen usaha, mengingat BPP Arjosari telah menjadi BPP percontohan di Pacitan.

Sementara Ketua III Baznas Pacitan, Putatmo S menguraikan upaya Baznas yang memiliki program terkait pemberdayaan petani, Baznas membuka kesempatan untuk kolaborasi dengan petani maupun peternak milenial.

Pengurus Koperasi Milenial Agro Sejahtera, Agus Rinoto mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung petani milenial mengembangkan usahanya, mengingat pendirian koperasi hasil kolaborasi Penerima Manfaat YESS di Pacitan.

“Selain membidik petani milenial, koperasi membuka peluang bagi semua petani untuk bergabung,” katanya.

Sementara Local Champion, Dimas Setyadani, selaku petani kakao binaan Program YESS di Pacitan mengakui YESS memberi dukungan bagi pengetahuan dan keterampilan budidaya kakao hingga pengembangan bisnisnya melalui Program Cacao Expert.

Kegiatan MAF ditutup oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementan [Pusdiktan] Idha Widi Arsanti yang mengingatkan bahwa Webinar MAF menjadi sumber inspirasi petani milenial mengembangkan usaha pertanian melalui kolaborasi usaha bersama koperasi, dan ke depan menggandeng Baznas.

“Dukungan dari BDSP dan Baznas diharapkan akan membantu pertumbuhan sektor pertanian di kalangan pemuda yang semangat dan berpotensi besar,” katanya. (Didi)

Project Manager PPIU YESS Jatim, Acep Hariri [depan, ke-3 kanan]