Pelaksanaan upacara Sichigosan sebagai tradisi Niciren Shoshu di Vihara Vimalakirti Purwokerto, Jawa Tengah/dok.kim

Menengok Upacara Sichigosan dalam Tradisi Niciren Shoshu

Editorindonesia, Purwokerto – Upacara Sichigosan merupakan tradisi Niciren Shoshu untuk memberkahi anak-anak usia 3, 5, dan 7 tahun. Dalam upacara itu, Bhiksu pemimpin upacara meletakan Gohonzon yang menjadi obyek pemujaan bagi Umat Buddha Niciren Shoshu di kepala anak-anak sembari mengucapkan mantera agung ‘Nammyohorengekyo’. Sementara anak-anak dan seluruh umat yang hadir juga bersikap anjali sembari menyebut Nammyohorengekyo secara berulang-ulang.

Seperti yang terlihat pada Minggu (19/11) lalu, usai membaca Saddharma Pundarika Sutra, sejumlah anak berusia 3, 5, dan 7 tahun bersikap anjali atau mengatupkan kedua tangan di depan dada, maju ke dekat bagian altar Vihara Vimalakirti Purwokerto, Jawa Tengah untuk mengikuti Upacara Sichigosan dari Bhiksu Yang Arya Singyo Kimura yang bertugas memimpin upacara. Ini merupakan bagian dari rangkaian Upacara Oeshiki yang diselenggarakan rutin setiap tahun.

Biasanya, usia sichigosan, anak-anak menerima bingkisan berupa kue, permen, botol minum dan susu. Mereka lalu kembali ke tempat duduknya masing-masing. Di akhir acara, Bhiksu Y.A Singyo Kimura mengambil bunga-bunga sakura yang terbuat dari kertas berwarna pink pada para umat.

Bhiksu Kimura menjelaskan, Sichigosan merupakan tradisi yang penting di Agama Buddha sekte Niciren Shoshu. Sebab anak dilambangkan sebagai keberuntungan, dan anak-anak adalah pusaka. Bagi orang yang memiliki hati kepercayaan Agama Buddha Niciren Shoshu akan mewariskan hati kepercayaan tersebut untuk meneruskan, melestarikan ajaran Niciren Daishonin kepada anak-anak.

“Dari dasar hati yang mendalam, saya ucapkan selamat untuk kita semua yang dapat melaksanakan Oeshiki dan dihadiri banyak umat. Saya ucapkan selamat juga kepada anak-anak yang baru saja mengikuti Sichigosan,”ujar Bhiksu Kimura, Minggu (19/11) di Purwokerto.

Upacara Oeshiki sendiri, menurut Bhiksu Kimura, merupakan upacara terpenting dalam sekte Niciren Shoshu. Upacara ini diselenggarakan untuk memperingati Pendiri Ajaran yakni Buddha Pokok Niciren Daishonin yang moksa pada 13 Oktober 1282 di kediaman Ikegami Bersaudara di Tokyo. Namun upacara ini bukanlah upacara kematian biasa. Sebab Niciren Daishonin meskipun menunjukan rupa moksa sebagai manusia, namun sebenarnya ia tidak pernah moksa dan terus berada di dunia untuk membabarkan dharma atau ajaran buddha. Fenomena ini disebut ‘Metsu Fu Metsu (kemoksaan dalam ketidakmoksaan)’.

“Upacara Oeshiki dalam Niciren Shoshu bukan upacara untuk orang meninggal. Ini upacara terpenting untuk merayakan keberadaan abadi Buddha Niciren Daishonin selama tiga masa, yakni masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang, maka kita memperingati dengan mengucapkan Selamat Oeshiki,”terang Bhiksu Kimura.

Diceritakan, Buddha Pokok Niciren Daishonin moksa pukul 08.00 pagi waktu Jepang. Ketika itu bumi berguncang dan bunga-bunga sakura bermekaran tidak pada musimnya. Fenomena gempa bumi diartikan sebagai peristiwa duka atas kemoksaan Sang Buddha. Sedangkan bunga-bunga sakura bermekaran di luar musimnya bermakna kegembiraan alam semesta menyambut Sang Buddha. Karena itu tiap Perayaan Oeshiki selalu diletakan bunga-bunga sakura dari kertas untuk menghias altar.

“Tiap Upacara Oeshiki, para bhiksu membacakan mosijo atau surat dari bhiksu tertinggi turun temurun pada Pemerintah Kamakura di waktu lalu untuk mengingatkan mereka agar menegakkan, menganut filsafat yang benar (Rissho Ankoku Ron) agar negara tenang dan tenteram. Kita juga berprasetya kepada Gohonzon akan menjalankan ajaran Niciren Daishonin dengan ketetapan hari yang tidak tergoyahkan,”kata Bhiksu Kimura.

Melalui moment Perayaan Oeshiki tersebut, Bhiksu Kimura mengajak para umat menjadikannya sebagai momentum untuk mengevaluasi diri. Serta menjalankan dengan lebih keras lagi ajaran Niciren Daishonin dengan semangat ‘itai dosyon’ atau satu hati meski berbeda-beda badan.

Sebelumnya, Pada Sabtu (18/11) Malam juga telah diselenggarakan Upacara Otaiya atau malam kembang, yang juga dipimpin oleh Bhiksu Kimura. Ini merupakan rangkaian dari Perayaan Oeshiki tahun 2023. Semua kegiatan tersebut dihadiri ratusan Umat Buddha Niciren Shoshu yang datang dari berbagai daerah. Mereka antara lain datang dari, Semarang, Pekalongan, Tegal, Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Temanggung, dan Jakarta.

Ketua Sentra 3 Jateng Majelis Niciren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI), Pandhita Utama Laniwati, mengaku amat senang karena Parayaan Oeshiki tahun 2023 ini dihadiri oleh umat dari berbagai daerah yang jumlahnya sangat banyak, hingga mencapai ratusan orang.

“Saya sangat senang Oeshiki kali ini yang datang sangat banyak,”kata Pandhita yang akrab dipanggil Siulan ini. (Kimie Tosi/EI-1)

Baca Juga: Telaah Kritis Pemikiran Haedar Nashir Soal Moderasi Keindonesiaan dalam Pendidikan Islam