Ilustrasi; Pedagang beras di pasar induk beras Cianjur, Jabar/dok.ist

Pemerintah Aneh, Masyarakat Butuh Beras Eeh Dikasih Rice Cooker

Editorindonesia, Jakarta – Masyarakat saat ini membutuhkan beras, dengan harga terjangkau dan stok yang memadai. Lucunya, pemerintah malah memberikan alat masak berbasis listrik atau penanak nasi listrik yang biasa dIsebut Rice Cooker.

Pemerintah berencana membagikan rice cooker gratis kepada masyarakat di tahun ini, yang tersisa sekitar kurang dari tiga bulan lagi. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 11 tahun 2023 tentang Penyediaan Alat Memasak Berbasis Listrik Bagi Rumah Tangga yang diteken Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Selasa (26/9).

“Sangat memprihatinkan di tengah kondisi krisis beras, pemerintah memutuskan untuk membagikan rice cooker. Kebijakan ini kurang sinkron dengan realitas saat ini,” ucap pengamat kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat dalam keterangannya, di Jakarta, Senin (9/10/2023)

Saat ini, jelas Nur Hidayat, kebutuhan paling mendesak adalah memastikan ketersediaan beras dan stabilitas harga bagi masyarakat. Achmad pun meminta pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan bagi-bagi rice cooker secara cuma-cuma terhadap masyarakat.

“Meskipun memiliki tujuan baik, sebaiknya ditinjau kembali dan disesuaikan dengan prioritas kebutuhan rakyat saat ini. Pasalnya, kita sekarang dihadapkan pada krisis beras,” ujarnya..

Dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi tahun 2023, disebutkan akan terjadi defisit beras di dalam negeri. Jumlah kekurangan itu sebanyak 0,09 juta ton di September dan 0,27 juta ton pada Oktober. Produksi beras di dalam negeri diperkirakan hanya sebanyak 2,46 juta dan 2,28 juta ton. Padahal, konsumsi beras diperkirakan 2,55 juta ton per bulan.

Achmad menuturkan sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya mampu memastikan ketersediaan beras bagi seluruh rakyatnya. Kenaikan harga beras dan kelangkaan stok menunjukkan adanya kegagalan dalam manajemen pasokan dan distribusi.

“Krisis beras yang melanda menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kebijakan yang diambil dengan kebutuhan nyata. Dalam mengambil kebijakan, pemerintah harus selalu mempertimbangkan dampak langsung terhadap rakyat,” tegasnya.

Ekonom tersebut menambahkan kebijakan pemerintah untuk membagikan rice cooker dengan tujuan optimalisasi penggunaan listrik dinilai akan memberatkan penerima. Program ini dapat meningkatkan konsumsi listrik di sektor rumah tangga.

“Ini dapat memberikan beban tambahan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di kelompok ekonomi menengah ke bawah, mengingat biaya listrik yang mungkin meningkat akibat penggunaan alat tersebut,” pungkasnya. (Didi)