Presiden AS, Joe Biden / Dok.AFP

Presiden Biden Tak Peduli atas Kekejaman Israel di Palestina

Presiden Biden | Editorindonesia, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengecam serangan kelompok Hamas, Palestina, terhadap Israel. Namun, sebaliknya, Biden mengabaikan warga Palestina yang menjadi bulan-bulanan aksi balas dendam Israel.

Bahkan, Biden berjanji untuk mendukung sekutu utamanya di Timur Tengah tersebut untuk melancarkan serangan ke Hamas di Palestina. “Ini adalah tindakan yang sangat jahat,” kata Biden di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, usai berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seperi dikutip dari The New York Times, Sabtu (14/10/2023).

Lebih dari 1.000 warga sipil dibantai, kata dia, tidak hanya dibunuh, dibantai di Israel, di antara mereka setidaknya 14 warga negara AS juga dibunuh. “Laporan-laporan yang membuat perut mual karena bayi-bayi dibunuh, seluruh keluarga dibunuh,” ujar Biden.

Pada kesempatan itu Biden diapit oleh Wakil Presiden Kamala Harris dan Menteri Luar Negeri Antony J. Blinken. Dia pun tengah menyelidiki identitas dan jumlah pasti warganya yang ditahan Hamas.

“Kami sekarang tahu bahwa warga Amerika ditahan oleh Hamas,” kata Biden.

Jake Sullivan, penasihat keamanan nasionalnya, kemudian mengatakan 20 orang Amerika belum ditemukan. Dia mengatakan pemerintah terus melakukan kontak dengan keluarga mereka.

Sullivan hanya memberikan kata-kata dukungan dan mengatakan bahwa pemerintah tidak berencana untuk menguliahi Israel tentang cara mempertahankan diri. Namun untuk menanggapi kekhawatiran mengenai warga sipil Palestina yang terjebak dalam perang.

Ia menyatakan bahwa AS sedang berupaya untuk memungkinkan warga Gaza melarikan diri dari serangan udara Israel yang mematikan.

“Saya tidak akan membahasnya secara detail, spesifik perlintasan atau lain sebagainya. Hanya untuk mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang kami fokuskan dan sedang kami kerjakan,” imbuh Sullivan.

Biden berbicara di depan kamera tidak lama setelah dia dan Harris menyelesaikan panggilan telepon dengan Netanyahu, di mana mereka mengulangi sumpah mereka untuk mendukung Israel. Itu adalah percakapan ketiga Biden dengan Netanyahu sejak serangan dimulai pada hari Sabtu.

Selain mengirimkan pengiriman peralatan militer ke Israel, presiden juga telah mengerahkan kapal dan pesawat tempur lebih dekat ke wilayah tersebut dengan harapan dapat menghalangi Iran, Hizbullah, atau kekuatan lain untuk meningkatkan perang.

Sullivan mengatakan Kongres akan diminta untuk menyetujui lebih banyak bantuan ke Israel. Sementara Biden tidak melakukan upaya untuk mendesak Israel menahan diri dalam menanggapi hal ini.

“Seperti negara lain di dunia, Israel punya hak untuk merespons, bahkan punya kewajiban untuk merespons serangan-serangan keji ini,” ujar Biden.

Dia menolak anggapan bahwa serangan itu dapat dimengerti atau bahkan dibenarkan. para kritikus dianggap sebagai penindasan Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

“Tidak ada pembenaran untuk terorisme. Tidak ada alasan. Hamas tidak membela hak rakyat Palestina atas martabat dan penentuan nasib sendiri. Tujuannya adalah penghancuran negara Israel dan pembunuhan orang-orang Yahudi. Mereka menggunakan warga sipil Palestina sebagai tameng manusia. Hamas tidak menawarkan apa pun kecuali teror dan pertumpahan darah tanpa mempedulikan siapa yang menanggung akibatnya,” imbuh Biden.

Dalam pengarahan setelahnya, Sullivan menjelaskan bahwa masalah ini bersifat pribadi bagi Biden, yang telah menjadi pendukung kuat Israel selama lebih dari setengah abad.

“Anda telah mendengar suaranya, dan ini merupakan saat yang sangat emosional bagi kita semua,” kata Sullivan. (Didi)