Ilustrasi warga berbuka bersama di selasar masjid/dok.ilustrasi

Risiko di Balik Terlambat Berbuka Puasa

Editor Indonesia, Jakarta – Sering terlambat berbuka atau pernah merasa enggan makan untuk berbuka puasa? Hanya menyantap kurma, kue dan minuman takjil sudah merasa perut penuh?  Tak jarang takjil porsi kecil atau normal memunculkan sensasi rasa kenyang yang merupakan efek lonjakan gula darah. Dan itu bukanlah kenyang sungguhan karena faktanya perut kita masih kosong.

Kita butuh makan sebagai sumber asupan mineral dan gizi regenerasi sel-sel tubuh setelah seharian berpuasa. Maka segera berbuka puasa sangat penting bagi kesehatan. Sedemikian pentingnya hingga Rasulullah SAW beberapa kali mengingatkan kita menyegerakan berbuka puasa. Di antaranya adalah hadis yang Imam Bukhari RA riwayatkan berikut ini:

قَا َل َ م َّ ْي ِه َو َسل َّى ََّّللاُ َعلَ َصل َّن َرسُو َل ََّّللاِ َ ْط َر أ ِف ْ ُوا ال :  ََل يَ َزا ُل النَّا ُس بِ َخْي ٍر َما َع َّجل

Artinya: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (puasa)

Risiko terlambat berbuka puasa

Terlambat berbuka berdampak terhadap metabolisme, peningkatan risiko menurunnya gula darah dan dehidrasi yang semuanya dapat mempengaruhi fungsi organ tubuh. Secara medis kondisi tersebut menyebabkan gejala seperti pusing, lemas, kebingungan, gemetaran, kecemasan dan bahkan gangguan tidur.

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Hipoglikemia: Terlambat berbuka dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah secara signifikan yang menyebabkan pusing, lemah atau bahkan pingsan.
2. Dehidrasi: Menahan diri dari minum air selama puasa dapat menyebabkan dehidrasi. Terlambat berbuka  cuma memperpanjang periode dehidrasi, yang pada akhirnya berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh.
3. Gangguan pencernaan: Terlambat makan bisa sangat berisiko bagi pengidap sakit mag atau asam lambung. Indikasinya adalah mual hingga sesak nafas akibat tergencetnya paru-paru oleh naiknya gas asam lambung. Pada kondisi terparahnya dapat berujung kematian.

Berbuka yang sehat

Mengingat risiko di atas, maka sangat penting untuk berbuka puasa tepat waktu. Tak hanya tepat waktu demi menghindari dampak negatifnya, tapi kita juga perlu berbuka puasa secara benar.

Di dalam praktiknya, berbuka puasa yang sehat dan tepat waktu adalah kombinasi antara panduan medis dan ajaran agama yang saling mendukung. Tujuan memastikan umat Islam dapat menjalankan ibadah sambil memelihara kesehatannya. Berbuka puasa yang sehat berdasarkan rekomendasi medis, sangat disarankan kita memulai dengan air putih dan makanan ringan yang tidak terlalu manis seperti kurma atau buah segar.

Tujuannya menambah cairan tubuh, memulihkan energi secara perlahan sekaligus mencegah lonjakan gula darah yang tiba-tiba. Setelah jeda beberapa menit untuk salat magrib, mengonsumsi makanan yang lebih berat dalam porsi wajar adalah langkah selanjutnya. Hindari makan berlebihan atau makan makanan yang terlalu berat, karena hal ini dapat membebani sistem pencernaan dan menyebabkan gangguan lambung.

Pilih menu makanan yang seimbang dan mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemaksehat, serta serat untuk memastikan asupan nutrisi yang cukup. Sehingga tubuh mendapatkan energi yang dibutuhkan setelah berpuasa seharian. Tidak kalah penting adalah berdoa dan bersyukur. Sebelum mengonsumsi makanan, berdoa dan mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang kita terima sepanjang hari ini.

Selamat berbuka puasa. (Luhur Hertanto/EI-2)