Pekerja di Warung Soto Sutri 1 sedang menyiapkan soto untuk pelanggan/dok.kim

Soto Sutri Pilihan Nomor Satu di Banyumas, Ini Rahasianya

Editorindonesia, Banyumas – Warung Soto Sutri 1 di Kawasan Jalan Pramuka, Kelurahan Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (30/12/2023) belum buka, tetapi sejumlah pengunjung sudah menunggunya. Begitu warung soto dibuka tepat pukul 09.00 wib, mereka langsung menyerbu masuk, lalu berbaris dalam antrian untuk mendapatkan masing-masing soto daging sapi khas daerah Sokaraja.

Berbeda dengan soto lainnya, Soto Sutri hanya menggunakan daging sapi yang sudah direbus dengan kuah kaldu hingga empuk. Pengunjung dapat menikmati kuah soto yang hangat dan gurih karena sudah dicampur dengan bumbu kacang. Dipadu bahan pelengkap berupa kecambah hijau, irisan daun bawang, mie putih soun, bawang goreng, kerupuk khusus soto dan ketupat.

Soto Sutri memiliki cabang Soto Sutri 2, tak jauh dari lokasi Soto Sutri 1. Kedua warung soto ini selalu laris dikunjungi para pembeli. Bahkan biasanya sebelum pukul 14.00 wib, semua soto di dua lokasi itu sudah habis terjual. Terlebih lagi jika musim libur lebaran dan liburan akhir tahun, warung soto ini lebih laris dari hari-hari biasanya. Pembeli harus datang lebih awal dan mengantri agar bisa kebagian mencicipi soto Sutri.

Seperti namanya, warung soto cabang 1 ini didirikan oleh Ny Sutri,63, warga Sokaraja Kulon, tepat pada Perayaan Hari Kartini tahun 1984. Namun Si Empunya warung sudah mulai berjualan sekitar tahun 1980 an di halaman rumahnya yang terletak persis di sebelah Balai Desa Sokaraja Kulon. Sutri mulai berjualan dengan modal sebesar Rp 10 ribu. Saat itu, karena minimnya modal, selain baru melayani pembelian dari para tetangga dan temann-temannya, Sutri juga kerap menerima pesanan soto untuk acara-acara di Balai Desa.

Lama kelamaan kelezatan soto buatan Sutri mulai dikenal banyak orang. Penjualannya pun makin laris dan bisnisnya makin berkembang. Warung Soto Sutri 1 di Kawasan Jalan Pramuka Sokaraja yang pertama kali dibeli Sutri sekitar tahun 1984. Kemudian warung soto dibuka, diresmikan tepat pada 21 April 1984, bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini. Pejuang perempuan asal Jepara itu menginspirasi Sutri untuk juga berjuang untuk membangun kehidupan dan bisnisnya sendiri.

“Kalau saya mulai bekerja mengelola warung soto ini sejak sekitar tahun 2010. Sedangkan Sutri yang memiliki bisnis ini hanya berada di rumah saja,”tutur Suwarni, salah seorang pekerja di Soto Sutri 1, Sabtu.

Selain dirinya, ada lima orang pekerja lainnya yang menjaga dan mengelola Soto Sutri 1. Sedangkan di warung Soto Sutri 2 karena lebih ramai, maka di sana dipekerjakan 10 orang. Semua pekerja di dua cabang warung itu merupakan keluarga dan kerabat dekat Sutri, sehingga perempuan itu bisa mempercayakan bisnis soto sepenuhnya pada mereka. Jika memasuki musim libur lebaran atau libur akhir tahun dimana penjualan soto makin ramai, Sutri menambah pekerja lepas untuk melayani pembeli.

“Malah biasanya kalau musim liburan, para pembeli sudah mengambili nampan dan mangkuk sendiri untuk langsung diisi bahan-bahan soto supaya mereka tetap kebagian soto,”kata Sutinah, pekerja lainnya.

Soto Sutri dibanderol dengan harga Rp 25 ribu per mangkuk. Selain rasanya yang lezat, irisan daging sapi dan jeroan dalam mangkuk soto juga melimpah. Penjualnya juga tidak pelit dalam menyediakan bumbu kacang sehingga rasanya kuah kaldunya bisa sangat gurih. Jika hari biasa, penjualan soto daging Sutri bisa mencapai rata-rata 50 an mangkuk di cabang Soto Sutri 1 dan sekitar 75-100 an mangkuk di cabang Soto Sutri 2.

“Kalau musim libur lebaran malah kita bisa memasak satu ekor daging sapi gemuk untuk ratusan mangkuk soto, itu pun habis lebih cepat, jadi pembeli memang tidak akan kebagian kalau datang lebih siang,”kata Sutinah.

Soto Sutri
Soto Sutri memakai sambal kacang/dok.kim

Menurut dia, pelanggan Soto Sutri datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Para pelanggan dari luar kota ini biasa mampir sewaktu libur lebaran dan akhir tahun. Namun untuk hari biasa, penggemar soto daging ini kebanyakan datang dari sekitar daerah Banyumas, Purwokerto, dan sekitar Sokaraja.

Kendati berhadapan dengan banyak pesaing baru di bisnis soto Sokaraja, Soto Sutri ini tetap bertahan. Bahkan meski tanpa promosi berlebihan di media sosial karena memang kebanyakan pekerja yang mengelola warung soto itu tidak akrab dengan media sosial. Di cabang 1 malah pembayaran soto hanya bisa melalui cash lantaran para pekerjanya kurang akrab dengan teknologi pembayaran elektronik seperti QRis dan lainnya.

“Kalau di cabang Soto Sutri 2 sudah bisa melayani pembelian soto melalui online, di cabang 1 masih belum bisa,”katanya.

Mulyati,60, salah seorang pengunjung Soto Sutri asal Kelurahan Kranji, Purwokerto, mengaku telah menjadi pelanggan tetap soto ini sejak pertama kali berdiri sekitar tahun 1980 an. Ketika itu ia masih sangat muda dan memang penggemar soto. Ia menilai, sejak dulu hingga sekarang, soto buatan Sutri ini tidak mengalami perubahan rasa.

“Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap enak, stabil, tidak berubah. Hanya kadang-kadang saja agak kurang asin, tapi itu bisa ditambahkan sedikit garam saja,”katanya. (Kimie Tosi/EI-1)

Baca Juga: Kiat Menempati Rumah atau Ruangan Lama Kosong agar Tidak Diganggu Setan