Ilustrasi berbuka puasa/dok.ai

Tips Berpuasa Ramadhan yang Sehat bagi Diabetesi

Editor Indonesia, Jakarta – Tips berpuasa ramadhan yang sehat bagi diabetesi (penderita diabet) perlu diketahui. Apalagi saat ramadhan yang merupakan pengalaman spiritual penting bagi umat Islam. Namun bagi diabetesi, ibadah wajib ini dapat menimbulkan tantangan khusus sehubungan dengan kondisi kesehatannya.

Tidak makan-minum selama belasan jam dan dalam jangka waktu relatif panjang, bisa memicu peningkatan atau penurunan kadar gula darah drastis yang berbahaya. Maka sangat perlu penderita diabetes terus memastikan kadar gula dalam darahnya tetap stabil.

Mulailah langkah kehati-hatian dengan memeriksakan kondisi kesehatan terakhir lalu mengkonsultasikannya kepada dokter. Jangan lakukan pada H-1 Ramadan, tapi minimal dua bulan sebelumnya sehingga cukup waktu untuk melakukan persiapan termasuk memperbaiki kadar gula darah.

Bagaimanapun masukan medis penting untuk merencanakan pelaksanaan puasa yang aman dan sesuai kondisi kesehatan terkini. Di antaranya perencanaan menu untuk makan sahur, takjil dan berbuka puasa.

Puasa yang sehat

Aturan utama bagi penderita diabetes adalah tidak berlebih-lebihan ketika makan sahur dan berbuka. Siasati rasa lapar dengan tetap makan tiga kali sehari: sahur, berbuka, dan menjelang tidur.

Sangat penting bagi penderita diabetes memperoleh asupan cairan yang cukup. Dehidrasi saat berpuasa selama belasan jam dapat pengaruhi kadar gula darah. Hindari minuman manis dan berkafein yang rawan meningkatkan gula darah, cukup air putih untuk menjaga hidrasi.

Tetap pantau gula darah secara rutin agar bisa cepat dapat diketahui efek puasa terhadap kadar gula darah dan menyesuaikan asupan makanan atau obat-obatan jika diperlukan. Terutama bila tiba-tiba merasa tidak enak badan atau lemas yang amat sangat.

Istirahat yang cukup dan olah raga ringan untuk jaga kebugaran tubuh. Cukup senam atau jalan kaki. Waktu terbaik berolahraga adalah satu jam sebelum waktu berbuka puasa.

Jangan lewatkan sahur

Makan sahur bukanlah syarat sah dan tidaknya ibadah puasa. Tetapi sahur adalah wajib bagi penderita diabetes karena merupakan kesempatan membekali tubuh dengan sumber-sumber energi.

Pantangan dalam menu sahur bagi para penderita diabetes adalah makanan manis, gorengan dan makanan tinggi lemak jenuh. Bukan tidak boleh sama sekali, tetapi perlu pembatasan sesuai saran dokter.

Sedangkan yang harus ada adalah makanan berkarbohidrat kompleks. Contohnya roti gandum, oatmeal atau nasi merah untuk semuanya memberikan cadangan energi tahan lama dan menghambat penyerapan glukosa.

Untuk lauknya adalah yang berprotein tinggi rendah lemak. Seperti telur rebus, ikan atau ayam karena bisa memberikan rasa kenyang lebih lama. Tambahkan lemak sehat untuk meningkatkan rasa kenyang. Pilihan sumbernya adalah kacang-
kacangan, alpukat atau minyak zaitun.

Sayuran juga wajib ada untuk membantu mengontrol gula darah. Di antaranya adalah bayam, brokol atau wortel dan tidak kalah penting adalah buah-buahan segar.

Dilarang telat berbuka

Untuk berbuka puasa, santaplah yang tidak terlalu manis seperti kurma. Gula alami dan elektrolit dalam kurma akan cepat memulihkan energi tanpa menyebabkan lonjakan drastis gula darah.

Barulah setelah itu lanjutkan dengan makanan seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein dan lemak sehat. Contohnya sup hangat, sayurannya kaya serat dan protein bisa membantu pencernaan sekaligus menghidrasi tubuh serta menjaga kadar gula darah stabil.

Sangat baik bila ada buah-buahan segar. Konsumsi secukupnya sebagai sumber vitamin dan mineral. Hindari konsumsi makanan atau minuman manis langsung setelah berbuka.

Batalkan puasa

Jika merasa tidak enak badan atau kadar gula darah terlalu rendah (<lt;70 mg/dL) atau terlalu tinggi (>300 mg/dL), batalkan puasa. Konsultasi dengan dokter dan ahli gizi bila hendak melanjutkan puasa. Tapi jangan terlalu memaksakan diri berpuasa jika kesehatan tidak memungkinkan.

Islam selalu memprioritaskan keselamatan dibanding ritual ibadah. Opsi solusi bagi yang tidak mampu berpuasa pun ada, yakni membayar fidyah (berasal dari kata “fadaa” yang artinya mengganti/menebus).

Fidyah hukumnya wajib sebagai pengganti ibadah puasa. Nilainya sesuai jumlah hari puasa. Hal ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 184 yang artinya adalah;

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Q.S. Al Baqarah: 184)

Para ulama sepakat bahwa fidyah tidak harus berupa makanan, tapi boleh dalam bentuk uang. Nominalnya sesuai takaran yang berlaku umum, seperti 1,5kg makanan pokok/hari lalu dikonversi jadi rupiah.

Baik yang berupa uang atau makanan, fidyah harus disampaikan -bisa secara langsung atau melalui masjid- kepada yang miskin. Penyampaiannya bisa setiap hari atau dirangkap untuk beberapa hari sekaligus. (Luhur Hertanto/EI-1)