Deputi Hukum TPN Pasangan Capres dan Cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Todung Mulya Lubis (tengah)/dok.ist

TPN Ganjar-Mahfud Turunkan Tim Telisik Dugaan Kekerasan terhadap Relawan oleh TNI

Editorindonesia, Jakarta – TPN (Tim Pemenangan Nasional) Ganjar Pranowo-Mahfud MD segera menurunkan tim untuk mendalami dugaan kekerasan yang dialami relawanya di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Demikian disampaikan Deputi Hukum TPN Pasangan Capres dan Cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Todung Mulya Lubis kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (31/12/2023)

Todung mengatakan telah berkoordinasi dengan semua pihak. Termasuk dengan Badan Pengurus Daerah (BPD) dan partai pengusung terkait kasus dugaan penganiayaan yang dialami sejumlah sukarelawan di Yogyakarta serta Jawa Tengah.

“Kita akan menurunkan orang ke daerah untuk melakukan investigasi sendiri. Investigasi untuk mengumpulkan data dan mendapat fakta-fakta. Kita perlu data dan informasi, kita akan melihat dan mengevaluasi semuanya,” ucap Todung.

Sebelumnya, seperti ramai diberitakan bahwa tujuh orang sukarelawan Ganjar-Mahfud mengalami kekerasan yang diduga melibatkan anggota TNI dari Markas Kompi B Yonif Raider 408/Sbh, Boyolali, Jawa Tengah. Akibat kejadian itu, 5 orang dikabarkan menjalani rawat jalan dan 2 lainnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Sedangkan di Yogyakarta, satu kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) tewas karena diduga mengalami kekerasan oleh pendukung partai politik lain.

TPN Ganjar-Mahfud, tegas Todung, mendorong investigasi dilakukan terhadap aparat TNI yang diduga terlibat dalam penganiayaan di Boyolali, Jawa Tengah.

Berdasarkan keterangan Kapendam IV Diponegoro Kolonel Inf Richard Harison kekerasan itu terjadi karena anggota TNI merasa terganggu dengan suara knalpot bising (brong) yang dari motor relawan Ganjar – Mahfud sewaktu melintas di jalan raya.

Richard Harison mengatakan dari informasi sementara, peristiwa itu terjadi secara spotan karena ada kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Peristiwanya terjadi pada Sabtu (31/12/2023) sekitar pukul 11.19 WIB saat beberapa anggota Kompi B yang sedang bermain bola voli dan mendengar suara knalpot brong.

“Tiba-tiba mendengar suara bising rombongan sepeda motor knalpot brong yang oleh pengendaranya dimain-mainkan gasnya saat melintas di jalan Perintis Kemerdekaan Boyolali,” kata Richard dalam keterangannya.

Mendengar suara itu, beberapa anggota yang sedang bermain voli lantas keluar gerbang dan melihat rombongan pemotor berknalpot brong sudah melewati depan Markas Kompi B.

Namun, beberapa saat kemudian, kembali melintas dua pemotor berknalpot brong yang sedang memain-mainkan gas sepeda motornya. “Lalu dihentikan dan ditegur oleh anggota selanjutnya terjadi cek-cok mulut hingga berujung terjadinya tindak penganiayaan oleh oknum anggota,” ucap Richard.

Anggota TNI tersebut, jelas Ruchard, semula hanya menegur agar kedua orang tersebut tertib berlalu-lintas dengan tidak memain-mainkan gas sepeda motornya yang dikendarai (knalpot brong), karena menimbulkan suara bising dan mengganggu orang-orang di sekitar jalan.

Sementara itu, TPN Ganjar-Mahfud, jelas Todung, akan melakukan pendampingan terhadap relawan tersebut apabila diperiksa. “Kami akan lakukan pendampingan jika relawan dipanggil sebagai saksi,” ujarnya.

Todung berharap peristiwa kekerasan yang dialami relawan Ganjar-Mahfud di Boyolali merupakan kejadian terakhir. Aparat kepolisian, TNI, serta aparatur sipil negara (ASN), ujarnya, bisa meredam potensi ekskalasi kekerasan saat tahun politik sehingga tidak terjadi konflik yang lebih luas.

“Mudah-mudahan peristiwa (kekerasan) di Boyolali peristiwa terakhir sehingga tidak perlu ada  kecemasan dalam melakukan kampanye ke depannya,” kata Todung. (Her)

Baca Juga: TPD Ganjar-Mahfud Targetkan 91 Persen Suara di Tapanuli Utara