Wabah kutu busuk di Paris, Prancis/dok.AAG Pest Control

Wabah Kutu Busuk Bikin Pemerintah Prancis Kelimpungan

Editorindonesia, Paris – Belum mereda dengan serangan wabah tikus, kali ini pemerintah Prancis dibuat pusing tujuh keliling dengan wabah kutu busuk. Ribuan serangga penghisap darah ini menyerbu berbagai fasilitas umum.

Bahkan kutu busuk sudah merasuki kursi penumpang di kereta cepat Prancis TGV dan juga kursi penumpang di Metro Paris. Padahal tahun depan, Prancis akan menjadi tuan rumah olimpiade 2024.

Pemerintah Prancis mengatakan dengan pelaksanaan olimpiade yang kurang dari setahun lagi, pemerintah tidak akan membiarkan kutu busuk menggigit penonton yang sedang melihat pertandingan ataupun yang sedang berada dalam fasilitas umum. Pemerintah bersiap melakukan pembasmian besar-besaran dari serbuan kutu busuk ini.

Kebingungan menghadapi serbuan kutu busuk ini, membuat Wakil Walikota Paris Emmanuel Gregoire, meminta perusahaan asuransi untuk memasukkan jaminan kutu busuk dalam polis asuransi perumahan.

Hal ini karena hunian kelas menengah kebawah dianggap sering luput dalam klausul jaminan kutu busuk ini. Dan seringkali golongan menengah ke bawah ini tidak memiliki dana untuk memanggil pembasmi hama, seperti kutu busuk ini.

Beberapa waktu viral video yang memperlihatkan serangga penghisap darah ini di Metro Paris, kereta berkecepatan tinggi dan juga di bandara Charles-de-Gaule Paris. Banyak wisatawan menyatakan jijik dengan kerumunan ribuan kutu busuk di kereta TGV dan Metro Paris.

Mmadi seorang pebisnis yang melakukan perjalanan ke prancis menyatakan depresi dengan serangan kutu busuk ini. Dia selalu menutup kopernya untuk mencegah kutu busuk masuk. “Saya akan mencuci semua baju saya, hal ini membuat saya paranoid,” ucapnya.

Wabah kutu busuk ini, di sisi lain meningkatkan penjualan produk pembasmi kutu busuk sebesar 30% dalam beberapa waktu belakangan ini. Meskipun kutu busuk ini tidak berbahaya bagi kesehatan, tapi membuang peralatan furniture yang telah dihuni kutu busuk merupakan kerugian yang mahal. Belum lagi rasa gatal yang menyerang dianggap bisa mempengaruhi kesehatan mental dari warga Prancis. (Dari berbagai sumber/Frd)